Friday, August 5, 2011

Gorengan Pengantar Berbuka


Ini bukan anjuran untuk makan gorengan di saat berbuka puasa. Apalagi makanan berminyak ini dikategorikan makanan kurang sehat, kalau tak mau mengatakan tak sehat. Tetapi, ini salah satu makanan yang sulit sekali saya tolak dan hindari. Favorit sedari kecil. Karena faktor kebiasaan inilah mungkin, menjadikannya susah ditolak.


Saya ingat, meski bukan kudapan wajib saat berbuka puas wajib sebelum, dia menjadi makanan nyaris wajib sebelum sarapan di rumah mama. Sehabis sholat subuh, sebelum bersiap dengan aktivitas lainnya, hampir selalu ada gorengan di meja tamu. Pisang, ubi, sukun, singkong adalah gorengan favorit keluarga. Saat makan besar pun, hampir selalu muncul lauk gorengan seperti tempe, tahu, teri, krupuk, ikan, daging, ayam. Selain mudah, makanan yang digoreng terasa lebih enak dibanding makanan yang direbus atau dikukus. Tak hanya di rumah, ketika berkunjung ke rumah tetangga dan sanak saudara, gorengan selalu menggoda iman. Ayam goreng cepat saji yang mulai merambah tanah air waktu itu, segera menjadi tempat makan terpilih.

Saat masih kuliah di Surabaya, menjelang buka puasa, saya dan beberapa teman sering patungan untuk membeli gorengan dengan sistem bantingan. Artinya, setiap orang orang boleh menyumbang uang sesuka hati. Yang sedang bokek boleh tak ikut menyumbang. Uangnya dibelikan gorengan. Takjil kami waktu kuliah. Waktu itu, kami tak pernah berfikir, apakah minyaknya dipakai berkali-kali atau tidak. Yang penting enak dan kenyang.

Sekarang, saya memang lebih sering membuat sendiri di rumah. Dan meski kesadaran akan keharusan mengurangi makan gorengan serta usaha-usaha yang dilakukan, tetap saja saya merasa konsumsi kami masih relatif banyak. Tidak bisa menguranginya secara drastis. Adakah yang punya tips untuk menghindari atau setidaknya lebih banyak mengurangi makanan enak satu ini?

1 comment:

matched content: