Sunday, April 12, 2015

6 Jurus Hemat di Dapur

Harga kebutuhan pokok dan harga energi makan lama makin melambung saja. Untuk mengatasinya, salah satunya adalah dengan berhemat. Berhemat menggunakan energi dan makanan. Bukan hanya kita bisa mengurangi pengeluaran karenanya, namun juga bisa berdampak baik bagi lingkungan.

Kami sekeluarga terbiasa hidup hemat sejak menikah dan suami masih berstatus mahasiswa. Semua pengeluaran kami atur sebaik mungkin. Dulu, setiap bulan ada dua pos pengeluaran yang tak bisa diganggu gugat: sewa apartemen dan bayar asuransi kesehatan. Nilainya tetap setiap bulan. Biaya energi seperti listrik dan pemanas air, serta makan, masih bisa diutak-atik.

Sampai sekarang, kami masih berusaha hemat menggunakan energi. Karena memasak sendiri di rumah, dapur menjadi salah satu tempat pemakai energi terbanyak di rumah. Apalagi alat-alat masak listrik di Jerman watt-nya aduhai. Kompor listrik 2000-3000 watt, teko listrik 1700 watt. Microwave 1000-an watt. Kulkas, oven listrik, mesin cuci piring, entah berapa watt.

Beberapa kebiasaan yang kita lakukan di dapur ternyata boros energi dan boros biaya. Cara mengatasinya adalah dengan mengubah kebiasaan itu agar kita bisa berhemat. Hemat energi tak hanya bagus buat kantong, namun juga buat lingkungan yang kita tinggali.

Di bawah ini, ada beberapa tips hemat di dapur:

1. Memasak dengan Panci
Panci sering kita gunakan untuk memasak sup, merebus sayura atau lauk, wadah membuat gulai, atau sekadar memasak air putih. Agar masakan lebih cepat matang, tutup pancinya. Dengan menutup panci, beberapa puluh persen energi bakal dihemat.
Memasak air dengan teko listrik lebih cepat dibanding dijerang di panci
Saat masak dan pancinya ditutup, seringkali tekanan cairan di bawahnya membuncah, hingga tumpah. Saya meniyasatinya dengan menggunakan panci lebih besar atau lebih tinggi. Airnya saya usahakan hanya sampai setengah panci.
Menggunakan air secukupnya saat merebus sayuran juga bisa menghemat energi. Brokoli atau kembang kol tak perlu direbus sampai tenggelam. Cukup sampai permukaan sayur saja. Jika perlu merebus air untuk memasak sup, saya selalu menggunakan teko listrik, bukan merebus air dalam panci. Selain lebih cepat, juga lebih hemat listrik.

2. Memanfaatkan Panci Presto
Panci bertekanan tinggi ini harganya memang lebih tinggi dibanding panci biasa. Namun berinvestasi membelinya menurut saya juga bukan keputusan buruk. Apalagi jika suka memasak bahan makanan dari daging merah.
Panci presto sekarang ini juga bisa digunakan untuk memasak sayuran. Tekanan di dalamnya bisa diatur. Perhatikan pula waktu memasaknya. Sayuran paling hanya butuh a-2 menit setelah panci mendesis. Kalau daging merah maksimal 1 kg paling-paling 10-15 menit. Bandingkan dengan waktu memasak yang bisa mencapai satu jam atau lebih jika memanfaatkan panci biasa.

3. Oven Listrik
Kalau baca-baca resep kue yang dipanggang, sering saya temukan petunjuk untuk memanaskan oven terlebih dahulu sebelum kita mengolah bahan. Tujuannya mungkin agar kita memasukkan kue atau masakan yang akan dipanggang, panas di dalam oven sudah merata. Tak ada keterangan lebih lanjut, berapa lama sebaiknya kita memanskan oven sebelum dipakai.
Padahal proses ngocok bahan buat kue bisa jadi setengah jam lebih. Atau bahkan bisa satu jam. Kebayang yang pakai oven listrik berapa energi yang terbuang. Saya menyiasatinya dengan memperpendek waktu menyalakan oven. Paling-paling 5 - 10 menit sebelum memanggang. Saya pakai kipas dalam oven listrik agar panas cepat merata. Menggunakan kipas dalam oven konon juga bisa mempercepat waktu pemanggangan.

4. Kulkas
Terlalu lama membuka pintu kulkas = boros energi
Membuka kulkas lama-lama, boros energi. Menurut sebuah informasi dari Tabloid Rumah, membuka kulkas 30 detik saja, dibutuhkan 30 menit untuk mengembalikan ke suhu semula. Perhatikan pula isi kulkas. Jangan terlalu penuh atau malah kosong. Karena daya yang dipergunakan malah lebih besar.

5. Bahan Makanan
Kalau bahan makanan tahan lama, tak apa membeli banyak sekaligus. Namun bahan makanan segara, saya beli secukupnya. Memang lebih murah membeli sayuran atau buah-buahan dalam jumlah banyak sekaligus. Tapi pada akhirnya, banyak juga yang busuk sebelum sempat dimakan. Ini mah mau untung, jadi buntung.
Selain itu, saya mulai mengubah kebiasaan masak dan belanja. Dulu saya kepengan masak apa, belanja itu. Tapi kemudian gak jadi dimasak karena malas atau tidak sempat. Esoknya pengen masak yang lain lagi. Sehingga bahan makanan menumpuk di dapur. Akhirnya sebagian harus rela dibuang karena sudah busuk atau kadaluwarsa.
Sekarang tidak demikian. Mau masak, cek bahan di dapur itu. Bahan yang ada, itu yang dimasak. Setelah yang ada habis atau hampir habis, baru belanja yang baru.
Selain itu, saya berusaha menghabiskan makanan yang sudah dimasak. Jika masaknya kebanyakan, atau sudah bosan dengan menu tersebut, kalau masih bisa disimpan di freezer, saya simpan. Kalau tidak, ya didaur ulang menjadi masakan lainnya. Daging empal misalnya, besoknya dijadikan balado. Tempe dan tahu goreng, gak habis besoknya dijadikan campuran gado-gado.
Tips dari dosen saya adalah, jangan belanja saat kita sedang lapar. Karena kita akan cenderung belanja lebih banyak dibanding saat kita kenyang.

6. Pemakaian Air
Sering-sering mencuci piring memang bagus. Tak ada piring kotor menumpuk di tempat cuci piring. Akan tetapi, sedikit sedikit mencuci piring berpengaruh pemakaian air. Jumlah pemakaian air akan meningkat. Tunggulah beberapa saat sampai agak banyakan, lalu dicuci.
Ada pula cara mencuci piring hemat air. Ini banyak dipakai orang Jerman. Cara saya adalah sabut cucian saya basahin dengan air sabun, cuci peralatan makan, lalu bilas. Cara yang banyak dipakai oleh orang jerman, dan orang Turki yang pernah saya saksikan adalah: mereka merendam peralatan makan kotor dalam air hangat yang telah diberi sabun. Setelahnya digosok dengan sabut, dibilas sedikit, selesai. Cucian seperti gelas bahkan cuma direndam air sabun, lalu dilap. Tak dibilas lagi. Buat saya agak aneh. Tapi bagi mereka itu biasa.

15 comments:

  1. Selalu masak pakai presto mbak, belajar Dari mertua :) sangat sangat bermanfaat mbak, lumayan simpan suit buat Jalan jalan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Listrik mahal nang India, Zulfa?

      Delete
  2. klo ak ngrendem cucian dpisah mbak, yg berlemak/ sisa makanan sendiri, yg gelas dpisah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, betul Mas. Ngrendemnya dipisah. Soalnya kalau piring suka ada sisa lemak.

      Delete
  3. Sharing yang bermanfaat nih, mbak.. Makasih yaa... :)

    ReplyDelete
  4. Aku belum punya panci presto, kalo udah ada rejeki, mau beli aaaah.
    berguna banget memang panci ini
    Makasih tipsnya mbakkk :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga segera ada rizki beli panci presto, Mbak... In shaa Allah.

      Delete
  5. kulkasku sering buat ngadem, padahal memang benar ya, cepet-cepet ditutup kulkas

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihihi... iyah, Mbak Astin... hal-hal sederhana sebenarnya, yah..

      Delete
  6. Kulkas di rumahku sering kosong mba ira, daya yang dikeluarkan lebih besar ya?

    ReplyDelete
  7. Tips no 5: Jangan belanja saat lapar.

    *Nyatet* :D

    ReplyDelete
  8. Makasih tips nya mbaa :)

    Saya juga klo belanja juga sedikit2 sesuai kebutuhan, klo banyak sekaligus sering kali malah kebuang sia2.

    ReplyDelete

matched content: