Thursday, December 24, 2015

Kangen Masakan Simbah di Yogyakarta

Masakan Rumahan

Berkembangnya kuliner di Yogyakarta, mulai warung kakilima, warung mahasiswa, restoran siap saji, cafe anak muda, sampai rumah makan keluarga. Semuanya tumbuh di Yogyakarta seperti jamur di musim penghujan. Kami warga Jogja malah bingung menentukan menu kuliner di luar rumah ketika tidak memasak dan harus memilih mau makan apa. Hal yang menyenangkan dengan perkembangan kuliner yang semakin beraneka ragam dan modern. Namun tidak selamanya yang fast dan modern bisa memenuhi lidah kami warga pribumi. Sesekali ada kerinduan mencicipi kuliner lokal yang kami menyebutnya, masakan simbah. Simbah itu panggilan untuk eyang atau nenek di Jogja.

Masakan Simbah


Melihat foto-foto di atas, panci-panci berisi lauk yang merupakan menu masakan khas rumahan di Jogja. Seperti sayur brongkos lengkap dengan lauk telur dan daging serta koyoran. Masakan-masakan lain yang menemani seperti sayur pare, ayam bacem, wader goreng, sambel goreng, bihun, bumbu bali telor, dan sayuran lain yang setiap hari beragam dimasak enak dan khas Jogja oleh pemilik warungnya.

Menu Andalan

Beberapa kali berkunjung kemari, menu andalan yang selalu ada adalah sayur pete dan sambal goreng kentang. Entah apakah penyuka petai ketagihan datang kemari sampai jumlah petai yang dimasak aduhai banyaknya. Menurut bude yang termasuk petai lovers, selama ada pisang, maka bau mulut petai akan bisa diatasi. Hayo yang berani mencoba petai disilahkan datang kemari ya.

Warung Ijo

Konsep masakan simbah ini bisa dijumpai di Warung Ijo, berlokasi di Tempel (Jalan Magelang - Jogja km 18). .Cukup jauh dari pusat kota Yogyakarta, karena warung ini hampir berada di perbatasan Yogyakarta Muntilan. Tapi sensasi rasa dari masakan Jawa yang khas di sini, selalu nagih untuk dikunjungi kembali. Foto di atas merupakan bangku makan yang disediakan di warung ini. Merasakan seperti makan di tempat simbah ya? Di atas meja tersaji lengkap mulai dari peyek kasang, emping manis, krupuk udang, krupuk biasa dan bermacam gorengan seperti bawan, tahu, pisang dan tempe. Tergantung jamnya untuk bisa mencicipi kelengkapan gorengan di atas mejanya. Kami biasanya sarapan di sini ketika akhir pekan, kurang lebih jam 7:30 seluruh masakan masih penuh dan di atas meja hidangan lauk pelengkapnya masih lengkap.

Gudeg Permata

Kalau tadi kita di perbatasan Yogyakarta, sekarang kita ke pusat kota Yogyakarta. Kuliner yang mewakili masakan simbah di pusat kota Yogyakarta (di belakang bioskop Permata). Menu gudeg campur yang dimasak seperti simbah-simbah di Jogjakarta. Legitnya areh yang gurih dan manisnya gudeg yang dimasak tanak, dengan sayur tahu, tempe dan krecek yang membuat sepiring nasi gudeg campur menjadi penuh dan cukup kenyang dinikmati di malam hari.

Ekspresi Mengantri

Bingung mencari kuliner yang enak di Jogja? Jangan khawatir, temukan saja kuliner yang antriannya panjang. Jika sudah berada di antrian dan menunggu, akan worthed ketika kita menyantapnya. Seperti terlihat dari ekspresi orang-orang yang menanti dilayani di Gudeg Permata. Gudeg yang baru menyiapkan lapak jualannya pukul 9 malam, dan mulai bisa dipesan setelah semuanya siap. Penjualnya hanya satu dan dibantu asisten yang cekatan menulis pesanan dan membagikan piring ke petugas pengantar sesuai nomor di pesanan.

Paha Atas dan Telor

Telur dan Dada

Setelah kurang lebih 30 menit sejak kami memesan, nasi gudeg campur dengan lauk telur dan ayam pun diantarkan ke meja kami. Sesuai pesanan dan rasanya enak. Kembali lagi, entah memang masakannya yang enak atau kitanya yang sudah lapar menunggu. Menu minuman yang ditawarkan standar, yaitu : wedang ronde, teh dan jeruk.

6 comments:

  1. Brongkos.. makanan favorite niiihh. Proses pengolahan yang lama sepadan dengan kelezatannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. walaupun 30-45 menit kan dijabanin ya panda.. wkwkwkwkwwkk

      Delete
  2. katanya, makanan di jogja semuanya manis banget.. bener gak sih ma? apa ada juga yang gurih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada juga yang gurih teh lia, seperti mendoan gorengnya gurih.. tapi rata-rata kok ya manis ya.. seperti di atas itu santannya cenderung dimasak manis..

      Delete

matched content: