Monday, August 1, 2011

Bento Turki dan Pak B.J. Habibie

Sabtu, 30 Juli 2011 yang lalu, di Aachen berbondong-bondong orang datang dari berbagai kota di Jerman dan Negara Eropa lainnya untuk bertatap muka dengan Presiden RI yang ketiga. Bapak Prof. BJ. Habibie yang juga merupakan alumni dari salah satu universitas teknik terbaik di Jerman (RWTH Aachen) diminta untuk mengadakan kuliah umum di depan seluruh mahasiswa dan warga Indonesia yang sedang berada di Eropa. 


Acara lumayan berlangsung dengan lancar di gedung rektorat RWTH Aachen. Para hadirin yang jumlahnya melebihi 400 orang ini, terlihat puas setelah mendengarkan kuliah beliau yang dibagi menjadi dua sesi.  Merekapun semakin antusias ketika ditawari foto bareng dan juga diberi sesi tandatangan. 
 
Pak Habibie terlihat cerah dan murah senyum di usianya yang sudah senja, 75 tahun. Beliau masih berusaha menyentuh tamu-tamu VIP yang hadir seperti walikota Aachen, dan rektor RWTH supaya mau bekerjasama dengan negara kita tercinta Indonesia terutama dalam hal kesempatan pendidikan bangsa. Di sesi kedua beliau lebih banyak bercerita mengenai pengalaman pribadi sekaligus memotivasi kami untuk tetap bangga dan yakin pada diri sendiri bahwa kita mampu sejajar dengan bangsa lain. Sudah saatnya kita meninggalkan kebijakan yg hanya mengeksploitasi sumber daya alam dan harus bisa menguasai teknologi dan memproduksi segala kebutuhan bagi diri sendiri. Pesan beliau yang masih terngiang-ngiang: "Work very hard, be honest, be fair, be professional, be low profile, never be a hero, and move very fast"

Acara berlangsung dari pagi sampai sore hari hingga panitia memutuskan menyediakan makan siang untuk para peserta. Berdasarkan banyak pertimbangan, panitia memesan makanan dari restaurant turki. Salah satu jenis restaurant di Jerman yang terkenal 'aman' untuk kaum muslim.

Untuk sarapan, kopi dan teh hangat disediakan, termasuk roti khas turki berisi keju menjadi teman minum hangat di pagi hari. Tidak semua peserta mengambil jatah konsumsi. Terlihat masih banyak roti yang tersisa setelah jadwal sarapan usai. Meskipun demikian, sisa roti tetap disajikan untuk peserta yang terlambat dan yang membawa anak-anak.

Drama pun datang ketika jam makan siang. Saya yang ikut membantu dalam penyajian makan siang ketar ketir karena ternyata pihak restaurant memiliki masalah teknis. Kotak makan siang pun datang setelah menunggu sekian lama. Menu yang dipilih adalah daging kebab yang ditemani oleh nasi khas turki dan salat. Sambal cabe khas turki dan saus dill menjadi pelengkapnya. Sangat disayangkan makanan dikemas dalam kotak styrofoam. Kotak seperti ini tidak aman untuk kesehatan maupun untuk lingkungan kita. Supaya sesuai dengan filisofi yang kami punya sebaiknya kotak makanan seperti ini dihindari.

Beberapa peserta menyayangkan, panitia menyediakan makanan khas turki ketimbang makanan khas Indonesia. Jadi ironi ketika mendengar kuliah pak Habibi yang menyatakan bahwa Indonesia sudah ketergantungan dengan produk luar negeri, "sepatu saja harus di import!" tegas beliau. Untung perumpamaannya bukan makan siang kami :D


2 comments:

  1. rotinya keliatan yummy.....:) pan-kapan cari resepnya, ah....

    ReplyDelete
  2. iya mbak enak dan yang jelas mengenyangkan... padet

    ReplyDelete

matched content: