Sunday, February 22, 2015

Menumbuhkan Taoge Sendiri

Di kampung saya dulu, bahan makanan ini dikenal sebagai kecambah. Atau disingkat cambah. Ada dua macam varian yang biasa dijual oleh para tukang sayur: Kecambah kacang hijau, dan kecambah kedelai. Cambah kacang hijau pun masih ada setidaknya dua varian: cambah pendek dan panjang.


Cambah pendek merupakan julukan cambah yang ukuran kecambahnya masih sangat pendek. Tak sampai setengah cm. Kalau cambah panjang, adalah tauge yang biasa dijual. Cambah kedelai atau cambah dele, berbahan kedelai. Kepalanya lebih besar.

Cambah kacang hijau pendek oleh mama saya dipakai sebagai campuran makan rawon. Dimakan mentah. Saya tidak doyan. Sampai sekarang pun saya tidak doyan taoge yang belum dimasak. Sedangkan cambah panjang banyak sekali manfaatnya dalam masak-memasak. Seperti dibuat campuran bakwan goreng, untuk nasi goreng serta mie goreng, dibikin pecel, ditumis, dibuat campuran sup, atau dilalap dan dimakan mentah. Cambah dele, di rumah kami, suka dipakai sebagai campuran sayur asem.

Karena banyak orang suka, tidak susah mendapatkan kecambah di pasar maupun tukang sayur. Tinggal bilang butuh berapa ons. Mama saya juga tak pernah beli banyak dan menyetok. Sekali beli seperlunya saja.

Taoge ini ternyata banyak manfaatnya bagi kesehatan. Satu sumber menyebutkan ia kaya protein, asam amino, vitamen E, dan mineral. Dalam sebuah diskusi tentang kesehatan wanita, bahkan ada seorang dokter wanita menyebutkan, bahwa wanita Asia lebih nyaman menghadapi menopouse. Sebab mereka lebih banyak mengkonsumsi makanan berbasis soya. Di antaranya adalah taoge ini.

Saya dan keluarga makan taoge sesekali. Di sini taogenya dari kacang hijau. Namun penampakannya lebih panjang dan gendut batangnya dibanding taoge di kampung dulu. Entah bagaimana teknik pembuatannya. Sehingga taogenya seperti itu. Atau mungkin karena bibit yang digunakan berbeda.

Di toko Asia dekat rumah ada yang menjual kecambah. Toko Asia di tempat tinggal saya keduanya dipunya oleh orang India. kadang di toko Turki sebelahnya pun saya melihat sekeranjang kecil kecambah. Harganya pun terjangkau. Boleh beli dikit-dikit. Namun saya terbiasa beli kemasan setengah kiloan.

Sayangnya setengah kilo itu tidak langsung cepat habis. Kadang kalau lagi semangat masak, sebagian saya pakai campuran bakwan goreng. Sebagian lagi untuk pecel atau ditumis. Tak jarang, saya malas memasaknya. Sedangkan taoge tersebut tak tahan lama. Paling lama tiga hari setelah beli kudu langsung dipakai atau dimakan. Jika tak segera dipakai, ya busuklah ia.

Beberapa waktu lalu, beberapa kali taoge yang saya beli busuk sebelum sempat dimanfaatkan. Sehingga saya sempat malas beli. Kalau ada bahan makanan pakai taoge, saya ganti dengan Chinakohl atau sawi putih sahaja.

Awalnya saya tidak berniat menanam taoge sendiri. Tepat gak sih menanam ini? hehehe. Kalau membuat juga kok kurang pas. Pakai istilah menumbuhkan saja kali, yah.

Dulu saya pernah mencoba sekali. Saya rendam saja biji kacang hijau di air. Hasilnya tidak bagus.

Tapi kemudia ada dua teman mencoba menumbuhkan taoge sendiri, dan berhasil. Mereka adalah Fero dan Tatie. Saya tanya bagaimana prosesnya. Sebelumnya saya menggunakan bibit khusus. Beli di sebuah toko bibit di internet. Bibitnya bagus, tak usah disortir dulu, Tapi harganya mahal. Hasilnya pun tak jauh beda dengan bibit biasa. Saya pun memutuskan untuk menggunakan bibit kacang hijau biasaya yang saya beli di toko Asia. Murah meriah. Alhamdulillah, saya sudah berkali menumbuhkan taoge sendiri dan sukses. Cara membuat taoge mudah saja, kok.


Alat dan bahan:
- Satu toples besar. Saya pakai toples gelas berkapasitas kira-kira 1 liter.
- Dua genggam kacang hijau. Sortir. Buang biji-biji tak utuh.

Prosesnya sangat mudah:
- Masukkan kacang hijau dalam toples.
- Tutup toples saya alasi serbet kertas di bawahnya.
- Siram kacang hijau 2-3 kali sehari. Buang airnya.
- Simpan toples di tempat kering dan gelap. Saya menyimpannya di dalam lemari dapur, tertutup.
- Kacang hijau akan tumbuh dalam waktu 4-5 hari.
- Bersihkan sisa kulit hijaunya. Tiriskan sisa air, dan simpan dalam wadah plastik.

Ternyata taoge buatan sendiri malah lebih tahan lama dibanding taoge beli. Disimpan dalam wadah plastik, ia tahan lebih dari seminggu di dalam lemari pendingin.





6 comments:

  1. Inget dulu jaman sekolah ada tugas bikin percobaan numbuhin kecambah. Ada 3 media yang dicoba, pake kapas basah, kapas kering, satu lagi cuma pake air. Hasilnya tiap orang beda2... Tapi kebanyakan yang paling bagus hasilnya yang pake media kapas basah....

    Btw, sama mbak Ira, aku juga ga suka toge mentah yg buat pelengkap rawon. Kalo makan rawon, togenya kucuekin ajah :D

    ReplyDelete
  2. Aku lupa-lupa ingat soal tugas sekolah eksperimen dnegan kecambah itu, Mbak Dee An. Apakah pas SD, ya?

    Tosss dulu sama Mbak Dee An kalau begitu. Taoge mentah itu rasanya langu2 gimana gitu, yah? :) ira

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak Ira, tugas waktu SD itu... kecambah-kecambahnya ditanam dalam gelas aqua. Saya masih inget banget ituu.. Soalnya tiap tahun nurun ke adik-adik saya dengan percobaan yang sama, hehehe..

      Delete
  3. Sippp. Pas, temen lagi datang dengan bumbu pecel India. Kacang hijau murah lagi. Kemarin cuman makan bumbu pecel sama gubis aja, kurang mantap.

    Matur nuwum ilmunya mbak :)

    ReplyDelete
  4. Sami2, Zulfa. Met praktik, yooo.

    ReplyDelete
  5. passs niii mbaa kalau nge rawon.. sedeeepppppp... makaasih tipsnyaa...

    ReplyDelete

matched content: